Listrik Murah Bukan untuk Diboroskan

Kini terbukti kelangsungan ketersediaan listrik di bangsa ini tergantung pada pelanggan rumah tangga. Kesadaran pelanggan rumah tangga untuk mengurangi konsumsi listrik terutama pada waktu beban puncak (17.00 – 22.00 WIB) menjadi kunci utama menghindari pemadaman.

Pemadaman bergilir kini bukan sekedar wacana. Kenyataan yang ada kapasitas pembangkit yang dimiliki PLN sering tak mampu memenuhi jumlah konsumsi pelanggan terutama pada jam 17.00 – 22.00. Pelanggan industri telah memberi kontribusi setelah diberlakukan kebijakan daya max plus. Langkah ini mampu mengggeser jam konsumsi listrik industri yang sebelumnya dimanfaatkan pada waktu beban puncak berpindah pada jam lain. Sayangnya pengurangan konsumsi listrik pada jam 17.00 – 22.00 belum begitu terlihat di pelanggan rumah tangga.

PLN memang tak menggunakan langkah tegas pada pelanggan rumah tangga seperti yang diterapkan pada pelanggan industri dengan layanan daya max plus. Layanan daya max plus ini memberikan apresiasi pada pelanggan industri yang mampu mengurangi konsumsi listrik pada waktu beban puncak berupa pengurangan tarif beban. Namun bagi yang konsumsi listriknya tetap tinggi pada waktu beban puncak, harga listrik yang dibebankan lebih mahal dari harga normal.

Karena karakteriktik yang berbeda, dilakukan pendekatan yang berbeda untuk pelanggan rumah tangga. Untuk pelanggan rumah tangga upaya pengamanan ketersediaan listrik mengharapkan adanya kesadaran pengurangan konsumsi listrik pada waktu beban puncak. Berbagai pendekatan dilakukan agar menghindari penggunaan alat listrik pada jam 17.00 – 22.00.

Biasa Boros
Namun ternyata sejauh ini belum ada kabar menggembirakan dari upaya hemat energi oleh pelanggan rumah tangga. Hal ini sepertinya membuktikan analisa berbagai pakar yang menyebut penggunaan energi listrik di Indonesia lebih bersifat konsumtif daripada untuk hal produktif.

Sekedar contoh, di Jepang waktu beban puncak penggunaan listrik terjadi pada jam 06.00 – 18.00 yang notabene waktu jam kerja. Dan kurva beban terlihat sangat turun pada jam istirahat sekitar pukul 12.00 – 13.00, hal yang tabu membiarkan komputer menyala saat ditinggal makan siang. Di sore malam hari saat seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah, konsumsi listrik di negara tersebut tak terlihat kenaikan berarti.

Selain itu konsumsi listrik di Indonesia tergolong sangat boros. Ada 2 parameter untuk menilai tingkat konsumsi listrik yaitu elastisitas energi dan intensitas energi. Elasitas energi adalah perbandingan pertumbuhan konsumsi listrik dengan pertumbuhan ekonomi. Semakin rendah angka elastisitas, semakin efisien pemanfaatan energinya. Dengan pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi 5% per tahun dan pertumbuhan konsumsi listrik 7% pertahun, angka elsatisitas energi Indonesia lebih dari 1. Sedang rata-rata di negara maju berada di angka 0,5. Pertumbuhan ekonominya dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi listrik.

Sedang intensitas energi adalah perbandingan jumlah konsumsi energi per PDB (pendapatan domestik bruto). Semakin efisien listrik suatu negara, maka intensitasnya semakin kecil. Saat ini anka intesitas listrik di Indonesia mencapai 400, Jepang merupakan negara yang paling efisien yakni dengan index 100. Thailand masih lebih baik dibanding kita dengan index di angka 350.

Terlena Tarif Murah
Memang tarif listrik yang dinikmati pelanggan PLN kini sangat murah. Padahal biaya produksi listrik sekarang sangatlah tinggi. Pada waktu beban puncak PLN harus menghidupkan pembangkit listrik yang boros BBM, biaya produksi listrik bisa mencapai Rp 2.650 per KWh. Dengan subsidi dari negara, pelanggan PLN bisa menikmati listrik dengan harga rata-rata Rp 550.

Kini tak ada lagi pemakluman budaya hidup boros listrik. Bila tak mau mengendalikan pemanfaatan listrik, pemadaman bergilir adalah hal yang bukan tak mungkin. Sampai tahun 2009 tak ada rencana beroperasi pembangkit baru yang akan menambah kapasitas di jaringan listrik Jawa-Bali-Madura.

Listrik murah bukan kemudian untuk difoya-foyakan. Negara memberi subsidi agar layanan listrik bisa dinikmati oleh semua rakyat Indonesia. Dan kini di usianya yang ke 61, lebih dari84 juta penduduk Indonesia tak memperoleh layanan listrik.

Grafik Konsumsi Listrik Harian