Kebakaran tampaknya kian menjadi santapan harian kita. Hampir setiap hari berbagai media memberitakan adanya kebakaran yang tak lupa disertai dengan perkiraan penyebabnya yang didominasi oleh satu hal, konsleting listrik.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran DKI Jakarta, pada periode 1992-1997 terjadi 4.244 dan 2135 diantaranya disebabkan oleh konsleting listrik. Ini berarti lebih dari separoh kebakaran diakibatkan oleh konsleting listrik. Data itu adalah data lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Melihat kecenderungan pemberitaan kebakaran yang kian mudah ditemukan, diperkirakan angka-angka ini akan lebih meningkat bila pendataan dilakukan kembali saat ini.
Kebakaran tak hanya mudah ditemukan di Jakarta yang merupakan kota terbesar di Indoneisa yang otomatis menyandang sebagai kota berisiko kebakaran tertinggi. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, berita kebakaran juga mulai banyak menyapa pembaca koran. Terakhir adalah kabar kebakaran yang melanda 48 kios dari 50 kios souvenir di kompleks candi Pambanan. Kerugian diperkirakaan mencapai 1,2 milliar rupiah. Di sana, kebakaran juga diperkirakan akibat konsleting listrik di salah satu kios yang menjajakan pakaian.
Hanya butuh sekali konsleting
Kebakaran dapat terjadi jika ada tiga unsur yaitu bahan yang mudah terbakar, oksigen dan percikan api. Percikan api sangat mudah muncul bila terjadi konsleting listrik atau yang disebut juga hubungan singkat ini. Konsleting listrik (hubung singkat) terjadi karena adanya hubungan kawat positip dan kawat negatip yang beraliran listrik. Hal ini karena isolasi kabel rusak yang disebabkan gigitan binatang, sudah tua, mutu kabel jelek dan penampang kabel terlalu kecil yang tidak sesuai dengan beban listrik yang mengalirinya.
Penggunaan ukuran kabel dan colokan listrik yang tak sesuai dengan perlatan yang membebani juga memperbesar risiko kebakaran. Misalnya kabel atau colokan 12 ampere dialiri listrik untuk menjalankan peralatan dengan kebutuhan 16 ampere. Kondisi ini dipastikan akan menyebabkan panas pada kabel maupun steker yang dapat melelehkan karet isolator kabel. Kabel tanpa isolator memudahkan terjadinya hubungan singkat, ditambah juga dengan suhu disekitar yang dipastikan sudah mencapai titik bakar. Cukup sekali percikan api, kebakaran pun terjadi. Terlebih bila percikan jatuh di bahan yang mudah terbakar seperti kain.
Yang terjadi memang hanya butuh sekali percikan api untuk bisa mengakibatkan kebakaran karena pada konselting listrik pertama, alat pemutus listrik (sekring) akan bekerja secara otomatis.
Hanya butuh kepedulian
Sebenarnya tak sulit untuk memperkecil risiko kebakaran akibat hubungan singkat. Kuncinya ada di kepedulian kita sebagai pengguna listrik. Perhatikan dengan baik apakah kita sudah menggunakan listrik dengan aman. Jangan sepelekan bila rumah sekring rumah Anda secara tiba-tiba dalam kondisi mati. Dipastikan ada konsleting yang sedang terjadi di rumah Anda.
Jangan sungkan menghubungi PLN untuk temuan ini. Petugas dari Biro Instalasi Listrik (BTL) akan selalu siap membantu untuk memastikan listrik keluarga Anda dalam kondisi aman.