Beban Puncak dan Budaya Hemat Listrik

Beban listrik adalah jumlah daya yang dibutuhkan oleh sistem kelistrikan. Beban listrik juga dapat diartikan daya listrik yang dipakai pelanggan. Ini berarti seluruh pembangkit listrik yang beroperasi pada sistem kelistrikan tersebut harus memenuhi kebutuhan daya listrik dalam sistem itu. Jika tidak dapat dipenuhi maka beban harus dikurangi. Pemadaman pun terjadi.

Sedangkan beban puncak adalah beban tertinggi yang harus dipanggul sistem kelistrikan pada waktu tertentu. Beban puncak juga berarti konsumsi listrik tertinggi seluruh pelanggan PLN. Beban puncak sistem kelistrikan Jawa Bali terjadi pada malam hari (17.00-22.00) tiap harinya.

Fakta-fakta beban puncak
Konsumsi listrik di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Prosentase kenaikannya sekitar 8%. Hal ini bisa terlihat dari terus meningkatnya beban puncak tiap tahun. Pada 2 November 2008 beban puncak sistem kelistrikan Jawa Bali mencapai 14.073,52 MW. Pada Senin 2 November 2009 beban puncak melonjak ke 17.099,70 MW. Untuk wilayah Jateng dan DIY beban puncak juga selalu meningkat tiap tahunnya. Di tahun 2008 beban puncak tertinggi capai 2.575,30 MW. Di tahun 2009 beban puncak tertinggi sejauh ini telah mencapai 2.660,70 MW.

Saat beban puncak berarti saat beroperasinya pembangkit berenergi primer minyak secara penuh. Saat beban puncak, PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLN P3B) mengerahkan PLTU, PLTG dan PLTGU yang berenergi primer minyak secara penuh. Kenapa pembangkit ini dikerahkan terakhir? Sebab biaya operasional PLTGU ini tergolong mahal mengingat energi primernya minyak. Itulah mengapa PLN mengampanyekan pengurangan penggunaan listrik antara pukul 17.00-22.00. Saat itulah beban puncak terjadi. Makin besar beban yang dipikul, makin besar konsumsi pembangkit listrik pada minyak.

Dengan indikator beban puncak, tingkat konsumsi listrik yang meningkat tiap tahunnya menghadirkan problema bagi pemerintah dan PLN. Tingkat pertumbuhan listrik harus menghadapi keterbatasan kapasitas pembangkit khususnya pada waktu beban puncak (WBP). Di sisi lain terdapat keterbatasan kemampuan pengadaan investasi untuk pembangunan pembangkit baru. Ketergatungan terhadap BBM juga menghadirkan permasalahan karena harga BBM yang tinggi dan sumbernya terbatas. Hal-hal inilah yang mengganggu keandalan sistem kelistrikan untuk melistriki pelanggan secara kontinyu. Pemadaman adalah jalan yang tak terelakkan. PLN juga menghadapi dilema lain yakni rasio elektrifikasi yang masih rendah khususnya di luar Pulau Jawa.

Sekali lagi, berhemat listriklah
Tak bosan-bosannya kami menghimbau pelanggan untuk menghemat listrik. Ini semata-mata demi kepentingan pelanggan. Dengan menghemat listrik berarti pelanggan dapat menghindari pemadaman bergilir, dapat menghemat sumber daya alam dan dapat memberi kesempatan penyediaan energi listrik bagi masyarakat yang belum menikmati listrik.

Mulai saat ini berhemat listriklah dengan membiasakan penggunaan listrik rumah tangga secara efisien dan menggunakan peralatan yang hemat listrik.  Terkait beban puncak hindarilah menggunakan peralatan listrik berdaya tinggi saat beban puncak (pukul 17.00-22.00).