Keputusan pemerintah untuk menunda kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di tahun ini adalah langkah yang sangat tepat bagi kemajuan bangsa. Kondisi perekonomian negara yang belum juga pulih dari status krtitis, masih memerlukan ketersediaan energi dengan harga yang kondusif.
Di internal PLN sendiri, keputusan ini juga banyak memberi wawasan baru. Jawaban PLN atas ditundanya kenaikan TDL ini adalah PLN tetap berkomitmen untuk mensuplai listrik ke seluruh bangsa. Langkah efisiensi menjadi hal yang mesti dilakoni. Salah satu upaya efisiensi yang dilakukan PLN adalah memnggunakan sumber energi yang lebih tepat kita gunakan.
Kita sadar ketergantungan sumber energi listrik pada bahan bakar minyak (BBM) bukanlah posisi yang tepat. BBM dulu menjadi primadona negara kita, hingga pemerintah tak segan mensubsidi guna bisa menjual BBM murah termasuk juga ke PLN. Tapi kini lembar sejarah telah berganti, Indonesia jadi pengimpor minyak bumi. Naiknya harga minyak di pasaran dunia yang nyaris mencapai 400% makin memperkeruh suasana dalam negeri.
Saatnya kembali melirik pada sumber daya alam Indonesia yang masih banyak tersimpan, batubara dan gas alam. Selain melimpah terkandung di bumi pertiwi, batubara dan gas alam juga memiliki harga yang lebih murah. Akan banyak pengurangan biaya pokok produksi listrik yang diperoleh bila menggunakan beberapa sumber energi ini.
Komitmen pada efisiensi sumber energi ini diwujudkan dalam pembangunan pembangkit non-BBM sebesar 11.660 megawatt. Harapannya pada tahun 2009 nanti konsumsi BBM dalam produksi tenaga listrik tinggal 5% dari jumlah sekarang.
Banyak pihak yang sangsi dengan rencana ini, dengan anggapan terlalu muluk untuk waktu sependek itu. Namun kami yakin dengan bantuan pelanggan semua, kita bisa mewujudkan rencana tersebut. Bantuan pelanggan sangat diperlukan pada upaya penghematan konsumsi listrik. Semakin banyak biaya belanja BBM yang bisa dihemat, semakin mudah kita melakukan pembenahan infrastruktur kelistrikan bangsa.
Ir. Purnomo Willy BS
General Manager PT. PLN (Persero)
Distribusi Jawa Tengan dan D.I. Yogyakarta