Berhemat listrik memang harusnya dilakukan setiap saat, tak peduli siang maupun malam. Lalu, apa manfaat yang dimaksud dari kampanye hemat listrik pada pukul 5 sore hingga 10 malam?
Cerita berawal dari kondisi infrastruktur ketenagalistrikan negara kita masih bergantung pada bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batubara dan gas alam. Di Indonesia bahan bakar tersebut masih menyuplai 87% pembangkit listriknya. Pembangkit listrik di Pulau Jawa dan Bali yang kini sudah saling terhubung menjadi sebuah sistem interkoneksi dapat menghasilkan tenaga listrik maksimal 20301 MW per jam.
Pembangkit bertenaga fosil ini tidak setiap saat digunakan. Pembangkit bertenaga terbaharukan seperti pembangkit bertenaga air (hidro) ataupun panas bumi (geothermal) diberi prioritas untuk berproduksi. Pembangkit-pembangkit tersebut memiliki kapasitas sekitar 13% dari suplai listrik Jawa Bali. Pembangkit bertenaga fosil yang masih berusia muda akan tampil sebagai prioritas kedua.
Ada banyak pembangkit yang telah berdinas cukup lama, bahkan diantaranya sejak tahun 1977. Pembangkit ini cenderung boros bahan bakar. Namun tak jarang pula pembangkit ini terpaksa digunakan pada saat beban puncak. Hal ini menjadikan biaya produksi listrik pada beban puncak makin mahal.
Sayangnya masyarakat Indonesia belum memiliki budaya konsumsi listrik yang baik. Listrik lebih banyak dimanfaatkan bukan untuk kepentingan produksi, namun lebih bersifat konsumtif. Ini terlihat dari beban maksimal yang terjadi pukul 17.00 hingga 22.00. Pada jam itu memang hampir setiap rumah di Indonesia menyalakan banyak alat listriknya, seperti lampu dan televisi. (lihat tabel)
Grafik konsumsi listrik sistem Jawa Bali tanggal 5 November 2007
(klik untuk memperbesar)
Untuk perbandingan, di Jepang beban puncak penggunaan listrik tejadi pada pukul 06.00 hingga 18.00 yang notabene adalah waktu jam kerja. Budaya hemat listrik mereka juga terlihat saat jam istirahat, ditunjukkan dengan grafik yang menurun. Di sana sudah ada kedisiplinan mematikan peralatan listrik seperti komputer dan AC pada saat ditinggal makan siang. Dan di malam hari saat berkumpul dengan keluarga, grafik konsumsinya tak menunjukkan kenaikan berarti.
Gampang terimbas geopolitik internasional
Bergantungya pembangkit kita pada bahan bakar fosil tak lepas dari sejarah Indonesia yang pernah memiliki cadangan minyak melimpah. Pada tahun 1977 saat banyak dibangun pembangkit baru, harga minyak dunia masih berada pada angka 2,5 dollar per barrel (1 barel setara dengan 158,97 liter)
Kisah tragis bermula dari begitu mahalnya harga BBM sekarang ini. Sejak perang Arab-Israel tahun 1980-an, harga minyak dunia memiliki kecenderungan naik. Kenaikan harga minyak pada saat itu yang berlipat hingga 10 kali dapat disikapi positif di Indonesia. Sebagai pengekspor minyak, Indonesia terimbas efek windfall yang mampu mendongkrak devisa negara.
Kini harga minyak dunia sangat rentan atas perubahan politik di suatu negara. Tahun 2005 dimulai babak baru krisis energi internasional. Saat itu harga minyak menembus 65 dolar per barel. Kenaikan ini akibat dari krisis AS di Irak yang memanas dan trend industri di China yang naik tajam yang tentunya memerlukan banyak BBM. AS dan China kini menjadi negara pengkonsumsi minyak tebesar. Hampir separoh konsumsi minyak dunia dihabiskan oleh 2 negara ini.
Berita hari-hari ini kembali dipenuhi naiknya harga minyak yang hampir menembus angka 100 dolar per barel, yang dikarenakan krisis politik di Turki dan melemahnya mata uang dollar.
Sayangnya kenaikan harga ini tak lagi menjadi kabar baik bagi Indonesia. Kini Indonesia telah berstatus negara pengimpor minyak. Produksi minyak kita tak sebanyak dahulu karena kian menipisnya cadangan minyak di perut bumi kita.
Bergantung pada pelanggan Rumah Tangga
Yang diharapkan dari program hemat listrik 17-22 adalah turunnya angka beban maksimal. Untuk pelanggan PLN industri, program ini tak hanya bersifat himbauan saja. PLN memiliki layanan DayaMax Plus yang ditujukan bagi pelanggan industri. PLN akan memberikan insentif khusus bagi pelanggan industri yang bisa menggeser jam konsumsi listriknya dari waktu beban puncak (WPB) ke luar waktu beban puncak (LWBP).
Namun bagi pelanggan rumah tangga, PLN tidak menggunakan mekanisme insentif tadi. PLN lebih mengedepankan himbauan agar pelanggan (rumah tangga) menekan konsumsi listrik pada waktu beban puncak. Ajakan menggunakan listrik dengan bijak ini lebih diharapkan mampu dilakukan oleh pelanggan PLN di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Di dua propinsi ini, konsumsi listrik untuk tumah tangga jauh mendominasi dari pada industri, terlebih pada waktu beban puncak.
Melambungnya grafik konsumsi listrik pada waktu beban puncak memiliki dampak yag serius. Bila konsumsi listrik Jawa Bali sudah menyentuh angka 15000 MW, secara otomatis akan terjadi pemadaman listrik begilir. Pemadaman ini diperlukan untuk menjamin adanya ketersediaan cadangan listrik yang akan mengamankan sistem kelistrikan Jawa Bali.
Cukup 50 watt
Selama ini negara masih mensubsidi selisih biaya produksi listrik, karena tarif listrik yang dikenakan ke pelanggan masih jauh di bawah harga produksi. Dalam memenuhi layakan kelistrikan bagi masyarakat Indonesia, PLN hanyalah pelaksana kewajiban pelayanan umum (Public Service Obligation/PSO) negara. Artinya devisit biaya produksi dan tarif listrik yang dikenakan ke pelanggan PLN menjadi beban APBN. Budaya hemat listrik secara otomatis juga akan berpengaruh positif bagi anggaran negara.
Ajakan mengurangi konsumsi listrik bagi pelanggan rumah tangga sebenarnya tak terlalu banyak, cukup 50 watt selama 5 jam beban puncak. Namun efek 50 watt ini akan sangat besar pengaruhnya bila dilakukan oleh 10 juta pelangan rumah tangga.
Bila 10 juta pelanggan rumah tangga mampu menghemat sebesar 50 watt selama pukul 17.00 hingga 22.00, kita dapat menghemat energi listrik sebesar 2500 juta watt jam (2500 MWh). Bila tiap 1 KWh listrik membutuhkan 0,3 liter solar, berarti kita selama 5 jam telah menghemat 750 kiloliter solar.
Dengan harga solar tanpa subsidi yang sekarang mencapai Rp 7.000 per liter, penghematan yang kita lakukan bernilai Rp 5,25 milyar per hari.Tentu Indonesia akan lebih makmur bila jumlah sebesar ini dimanfaatan untuk sektor lain, seperti pendidikan misalnya. Bayangkan saja berapa gedung sekolah yang dapat diperbaiki setiapharinya dengan dana sebesar ini?
Cukup dengan menghemat listrik 50 watt selama 5 jam, kita telah turut menyelamatkan Bangsa. Dan yang penting, matiin yang ngga penting.