Yang Bisa Dihemat Saat 17.00–22.00

Hemat listrik bukan cuma masalah kebiasaan, tapi lebih ke masalah budaya. Bila Anda sedang berkunjung ke Jerman, pastikan jangan menyalakan lampu saat tidur. Bisa jadi tetangga sebelah rumah akan mengetok pintu dan meminta Anda mematikan lampu.

Ya, di sana menghemat energi sudah menjadi kesadaran umum yang harus ditegakkan bersama. Sesama tetangga akan saling mengingatkan untuk menghemat energi. Tak hanya listrik. Air pun dimanfaatkan secara baik.

Di Indonesia? Jangan marah kalau ada yang menyebut masyarakat negara kita penganut sistem individualistik. “Lampu gue, listrik gue, gue juga yang bayar, urusanmu apa?” Begitu kira-kira bila ada yang mengingatkan kita untuk berhemat listrik.

Namun budaya yang buruk memang tak pantas dipertahankan. Sebelum kita dibikin malu tetangga, lebih baik kita segera berpikir mencari celah dimana penggunaan listrik yang masih bisa (lebih) dihemat.

Belajar di 17-22.
Antara pukul 5 sore hingga 10 malam adalah waktu yang tepat untuk memulai belajar berhemat listrik. Saat itu (pada umumnya) semua anggota keluarga sedang berkumpul di rumah. Karena itu kita juga bisa mengajak anggota semua keluarga untuk mulai berhemat. Terlebih bila ada anak kecil di keluarga kita, budaya hemat listrik akan lebih mudah dilakukan bila sudah dimulai sejak usia dini.

Selain itu tentunya berhemat saat pukul 5 sore hingga 10 malam akan berefek positif bagi negara. Lalu apa yang bisa dihemat pada saat-saat tersebut?

Pertama yang bisa kita perhatikan adalah masalah penerangan. Tahukah Anda bahwa penerangan (lampu) bisa menyedot konsumsi listrik rumah tangga hingga 60 persen? So, penghematan di masalah penerangan akan memberi dampak yang lumayan besar.

Penghematan di masalah penerangan bisa kita mulai dengan mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi (LHE). Nyala LHE—yang merupakan keluarga jenis lampu fluorescent ini—lebih terang dibanding lampu pijar. Bila sebelumnya kita menggunakan lampu pijar dengan daya sebesar 40 watt, kita bisa mendapat kualitas penerangan yang sama hanya dengan 8 watt LHE. Di beberapa negara, seperti Australia, sudah melarang penggunaan lampu pijar.

Usia hidup lampu fluorescent juga lebih lama, sekitar 8000 jam. Bandingkan dengan daya nyala lampu pijar yang rata-rata hanya 1000 jam. Walaupun sebenarnya kualitas lampu LHE tergantung keseriusan masing-masing merek dalam mengembangkan jenis lampu ini. Agar tak merasa tertipu, pastikan ada logo SNI di LHE yang Anda beli. Dijamin, kualitas pasti sesuai janjinya.

Memang sih harga LHE lebih mahal daripada lampu pijar, namun dengan melihat usia hidup yang lebih lama, dapat dipastikan LHE akan jauh lebih hemat.

Yang penting…matiin yang nggak penting
Setelah masalah penerangan, kita bisa menilai kebiasaan kita saat jam-jam ini. Bila kita masih bisa menyalakan TV hanya untuk mencela tayangan sinetronnya yang menye-menye tersebut, lebih baik matikan saja TV-nya. Gunakan waktu Anda untuk hal yang lebih baik. Seperti baca buku atau membacakan buku cerita untuk anak-anak Anda.

Kebiasaan lain seperti menggunakan setrika juga layak dievaluasi. Bila kita masih menyetrika baju tiap hari, mending kebiasaan ini dirubah. Setrika baju lebih baik dilakukan sekaligus banyak agar proses pemanasannya tidak mubazir.

Juga pada kebiasaan mengisi bak air. Pastikan sudah ada tandon air bila rumah Anda mengandalkan air sumur yang di pompa menggunakan pompa listrik. Pompa air membutuhkan daya listrik yang besar saat awal nyala. Tandon air akan membuat Anda tak harus sering-sering menyalakan pompa air.

Dan pastikan alat-alat listrik tersebut, seperti setrika dan pompa air tidak dinyalakan pada pukul 5 hingga 10 malam. Biasakan mengisi air pada pagi hari sebelum mandi pagi atau sore hari sebelum mandi sore.

Itu hanyalah beberapa contoh. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghemat listrik. Menghemat sumber daya bangsa kita untuk anak cucu kita kelak.